August 2017

Saya tidak punya sanak atau keluarga yang bersinggungan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), baik sebagai anggota ataupun “korban”, tidak punya keluarga yang menjadi target KPK juga, baik itu eksekutif, legislatif maupun pengusaha yang mengerjakan proyek2 pemerintah. Jadi apa yg saya tulis ini benar2 netral, tanpa pembiasan sedikitpun.

Saya termasuk pendukung KPK, karena memang tingkat korupsi yang ada di negara ini sudah amat sangat mengkhawatirkan. Dan saya menjadi tidak suka kepada pihak2 yang usil, terutama kepada anggota dewan yang kesannya “takut” akan senjata pamungkas KPK: penyadapan.

Tapi saat saya menggeser perspektif, menjadi pihak yang netral, yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang yg lebih luas, ini yang saya lihat:

  • Badan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif maupun para pengusaha adalah manusia yang memiliki dosa.
  • Apabila semua percakapan para manusia berdosa itu direkam oleh KPK, maka KPK mempunyai catatan dosa dari ribuan orang (bukan hanyak dosa Korupsi, tapi dosa-dosa lainnya juga).
  • Anggota KPK, yang mempunyai akses ke rekaman penyadapan para manusia berdosa ini haruslah orang suci, yang tidak memiliki niat buruk untuk menyalahgunakan “catatan dosa” para manusia berdosa yang jadi target penyadapan.
  • Para anggota KPK yang juga manusia, tentunya punya dosa juga, atau bisa saja hatinya terpengaruh bisikan setan, dan akhirnya bisa menyalahgunakan hasil penyadapan untuk kegiatan negatif.

Serem juga yah ternyata, pantesan anggota dewan itu banyak yang berkoar2 bahwa KPK adalah lembaga superbody. Dan senjata andalan KPK ternyata bermata dua: bisa untuk kebaikan dan bisa untuk kejahatan. Seperti apa kata Uncle Ben: With great power comes great responsibility.

Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang haq adalah haq, dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang bathil adalah bathil, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya.

Beberapa saat yang lalu saya mengunduh Kali Linux, menginstallnya di kartu memori, dan memasang encrypted persistent storage.

Rewind sedikit, sebelumnya lagi saya mencari cara untuk mendapatkan password dari access point yang di proteksi dengan WPS2+PSK, pilihan saya jatuh pada Aircrack-ng, berhasil mendapatkan four way handshake dari access point yang bersangkutan, sesudah mencoba melakukan dictionary attack pake crunch (dengan kombinasi semua huruf besar dan kecil serta angka dengan panjang minimum 8 karakter) yang terasa begitu lama karena besarnya data dictionary dari kombinasi yang saya sebutkan bisa beberapa tera bytes, saya mencari cara lain.

Rewind sedikit lagi: saya punya saudara yang tinggal bersebelahan, sebut saja si A dan si B, si A bersepupu dengan orangtua si B. Dalam strata sosial, si B lebih baik dari si A. Pada suatu ketika si B memasang internet FTTH (fiber to the home), pada saat anaknya si A yang masih sekolah membutuhkan koneksi internet untuk menyelesaikan tugas sekolahnya dan bermaksud “meminjam” koneksi internet keluarga B dan keluarga B dengan setengah matang (gak mentah2 banget) menolak memberikan password wifi kepada keluarga A.

Hal ini disaksikan oleh saya dan Istri saya yg kebetulan sedang berkunjung. Saya setengah tidak percaya, karena sebenarnya bisa saja keluarga B memberikan password wifinya lalu mengganti dengan password yg baru besoknya agar koneksi internetnya tidak lagi bisa dipakai oleh orang lain. Kalau saya yang punya, pasti saya kasih tau passwordnya tanpa saya ganti2 lagi, apa salahnya berbagi bandwidth yang cukup besar kepada keluarga sendiri, apalagi tidak ada biaya tambahan untuk itu.

Balik lagi ke Kali Linux, sesudah saya cari2 cara terampuh, pilihan saya jatuh pada Fluxion, tutorial cara makenya banyak beredar di internet. Satu minggu persiapan, dan begitu dijalankan dalam waktu 30 menit saya langsung dapat passwordnya, yang tentu saja langsung saya share ke keluarga si A.

Is this a white hack? A black hack? I don’t care, I just want to share something that should be shared.

Kalo sampe terbalik, itu adalah bentuk kedunguan yang terpelihara secara sistematis. Itu bentuk ketidaksopanan tertinggi yang bisa dilakukan oleh sebuah negara kepada negara tetangganya dalam event Internasional.

Kalau saat ini saya menjabat sebagai Presiden RI, saya akan boikot acara Sea Games dengan tidak mengikuti acara tersebut.

Memang pantas saat Bung Karno bilang: Ganyang Malaysia!