Perspektif

Saya tidak punya sanak atau keluarga yang bersinggungan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), baik sebagai anggota ataupun “korban”, tidak punya keluarga yang menjadi target KPK juga, baik itu eksekutif, legislatif maupun pengusaha yang mengerjakan proyek2 pemerintah. Jadi apa yg saya tulis ini benar2 netral, tanpa pembiasan sedikitpun.

Saya termasuk pendukung KPK, karena memang tingkat korupsi yang ada di negara ini sudah amat sangat mengkhawatirkan. Dan saya menjadi tidak suka kepada pihak2 yang usil, terutama kepada anggota dewan yang kesannya “takut” akan senjata pamungkas KPK: penyadapan.

Tapi saat saya menggeser perspektif, menjadi pihak yang netral, yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang yg lebih luas, ini yang saya lihat:

  • Badan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif maupun para pengusaha adalah manusia yang memiliki dosa.
  • Apabila semua percakapan para manusia berdosa itu direkam oleh KPK, maka KPK mempunyai catatan dosa dari ribuan orang (bukan hanyak dosa Korupsi, tapi dosa-dosa lainnya juga).
  • Anggota KPK, yang mempunyai akses ke rekaman penyadapan para manusia berdosa ini haruslah orang suci, yang tidak memiliki niat buruk untuk menyalahgunakan “catatan dosa” para manusia berdosa yang jadi target penyadapan.
  • Para anggota KPK yang juga manusia, tentunya punya dosa juga, atau bisa saja hatinya terpengaruh bisikan setan, dan akhirnya bisa menyalahgunakan hasil penyadapan untuk kegiatan negatif.

Serem juga yah ternyata, pantesan anggota dewan itu banyak yang berkoar2 bahwa KPK adalah lembaga superbody. Dan senjata andalan KPK ternyata bermata dua: bisa untuk kebaikan dan bisa untuk kejahatan. Seperti apa kata Uncle Ben: With great power comes great responsibility.

Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang haq adalah haq, dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang bathil adalah bathil, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya.

Sekarang ini mengucapkan kata “Insya Allah” menjadikan sebuah janji tidak bisa dipegang, karena rata2 orang mengartikan kata insya Allah dalam sebuah janji berarti yang menjanjikan tidak harus memenuhi janjinya itu kalau dia tidak mau. Ini karena banyaknya pemberi janji yang menggunakan kata2 itu sebagai alasan pengingkaran janjinya.

Padahal kata2 “Insya Allah” di akhir sebuah janji adalah sebuah keharusan yang berarti bahwa bagaimanapun manusia berencana, tetap Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Berarti sebuah janji mutlak harus dipenuhi, kecuali jika Tuhan tidak mengijinkan.

Contoh kecil, jika saya janji untuk datang ke sebuah acara, maka walaupun hujan deras, selama saya masih bisa mencapai tempat acara, maka saya tetap harus datang ke acara itu, kecuali jika di tengah jalan ada pohon tumbang yang menimpa tubuh saya, atau tubuh saya tersambar petir, atau kejadian2 lainnya yang membuat saya sama sekali tidak bisa menghadiri acara itu. Kata “Insya Allah” diujung janji saya tidak membuat saya membatalkan janji saya karena hujan gerimis yang turun.