sabdo

Pada zaman dahulu, saat tanah jawa dipimpin oleh Raja-Raja, terkenal ungkapan ‘sabdo pandito ning ratu’. Segala perkataan Raja akan jadi kenyataan.

Terlepas dari benar/tidak (karena banyak mitos yang menyelubungi cerita2 raja dahulu). Bagi saya, kata2 itu berarti bahwa seorang raja harus hati2 dan bertanggung jawab atas ucapannya.

Walaupun dia tidak bilang “saya janji”, tiap perkataannya adalah janji secara otomatis. Karena yang terucap adalah hukum yang mengikat semua orang termasuk sang raja juga. Sepertinya, Raja2 dahulu mirip dengan pendekar2 di cerita silat tiongkok. Sekali berkata, pantang untuk ditarik kembali.

Pada zaman sekarang ini, saya tidak melihat adanya pemimpin yang ucapannya bisa dipegang. Sebagai seorang laki2 yang gemar membaca cerita silat tiongkok, terus terang saya kecewa. Masa’ sih diantara 200 juta rakyat Indonesia tidak ada yang bisa jadi pemimpin yg benar2 bisa memegang janji.

Konon di zaman sekarang ini ada pemimpin yang dengan semangat berapi-api berjanji (pendukungnya bilang sang pemimpin tdk berjanji) akan membeberkan identitas seseorang (yang sempat bikin heboh) dalam waktu dua hari, tapi sampai sekarang tdk ada kabarnya lagi.

Wahai ksatria sejati, kutunggu kamu tuk jadi pemimpin negeri.